TUGAS
MAKALAH EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT
MENULAR SEKSUAL GONORE
Dosen
Pengampu : Risna Wati, S.SiT
Disusun oleh:
1.
Ending
Sulastri (0410014)
2.
Sri
Hartati (0410056)
AKADEMI KEBIDANAN
AR-RUM SALATIGA
Jl. Pondok Joko
Tingkir Lor No.5 Salatiga
2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat allah SWT karna dengan rahmat dan karunianyalah kami dapat menyusun
makalah yang berjudul tentang “Penyakit Menular Seksual Gonore” ini dapat
diselesaikan secara baik dan tepat pada waktunya.
Terimakasih
kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dalam penyusunan
makalah ini, semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan
tentang “Epidemiologi Tentang Penyakit Menular Seksual Gonore”.
Makalah ini tidak lepas dari kekurangan
sehingga memerlukan saran dan kritik untuk kesempurnaan.
Salatiga, 29 April
2012
Penyusun,
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR
ISI ......................................................................................................... ii
BAB
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................................ 1
B.
Tujuan...................................................................................................... 2
1. Tujuan Umum...................................................................................... 2
2. Tujuan Khusus..................................................................................... 2
BAB
II .................................................................................................................... ISI
A. Defenisi.......................................................................................................... 3
B. Manifestasi
klinik........................................................................................... 3
C. Komplikasi..................................................................................................... 4
D. Pemeriksaan
Penunjang.................................................................................. 6
E. Penatalaksanaa.............................................................................................. 7
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................. 9
B. Saran
....................................................................................................... 9
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
II
PENDAHAULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Menurut WHO, uretritis gonokokus dan non gonokokus
merupakan masalah kesehatan lingkungan yang sangat penting. Penyakit ini
ditransmisikan terutama malalui hubungan seksual dengan partner yang
terinfeksi. Penyakit ini juga dapat menular melalui cairan tubuh yang
terinfeksi sehingga ibu dapat menularkan infeksi ini ke bayinya selama
persalinan. Penyakit ini dapat mengenai pria dan wanita, serta lebih mudah
menyebar pada individu yang memiliki banyak partner seksual (Talhari, et al., 1997).
Neisseria gonorhoeae merupakan penyebab gonore, salah satu
penyakit menular seksual yang terbanyak. Sekitar 62 juta kasus gonore
terdiagnosa pada 1995. Waktu inkubasinya sekitar 2-5 hari. Penyakit ini
menimbulkan gejala disuria, gatal pada uretra, dan secret uretra purulen. Namun
pada sebagian besar kasus, terutama pada wanita, penyakit ini asimtomatik
(Talhari, et al., 1997).
Non-gonococcal urethritis (NGU) adalah satu di antara penyakit
menular seksual yang umum ditemukan. Diperkirakan sekitar 89 pasien dengan
infeksi Clamydia, dan 170 juta dengan infeksi Trichomonas pada 1995. NGU dapat
disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan jamur (Talhari, et al., 1997).
Uretritis gonokokus dan non gonokokus memiliki gejala klinis yang
hampir sama, sedangkan penanganan yang diperlukannya cukup berbeda. Oleh karena
itu, diagnosisnya perlu dibedakan baik melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Dengan penegakan diagnosis yang tepat, terapi dapat
dilakukan secara efektif dan efisien, sehingga mengurangi timbulnya komplikasi
penyakit dan tingkat penyebarannya di masyarakat.
B.
TUJUAN
1. Tujuan
umum
Agar mahasiswa mengetahui tentang penyakit menular seksual gonore.
2. Tujuan
khusus
a. Menambah
wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang penyakit menular seksual gonore.
b. Agar
mahasiswa mamapu menjelasakan tentang penyakit menular seksual gonore.
BAB II
ISI
A.
DEFENISI
Gonore adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh nisseria
gonorrehoeae (N. gonnorhoeae). (kapita Selekta Kedokteran jilid 2, 2000)
Gonore adalah infeksi menular seksual di saluran
genitourinaria bawah yang disebabkan oleh neisseria gonnorrhoae.(buku ajar
patologi edisi 7, 2007)
Gonore adalah infeksi menular seksual
pada epitel dan umunya bermanifestasi sebagai cervicitis, uretritis, proctitis,
dan conjungtivitis. Bila tidak diterapi, infeksi ini dapat menimbulkan
komplikasi lokal seperti endometritis, salpingitis, TOA, bartolinitis,
peritonitis, dan perihepatitis pada pasien wanita, periuretritis dan epididimitis
pada pasien pria, dan oftalmia neonatorum pada neonatus. Gonokokemia diseminata
merupakan kejadian jarang yang bermanifestasi sebagai lesi kulit,
tenosinovitis, arthritis, dan pada kasus jarang endokarditis atau meningitis.
B. MANIFESTASI KLINIK
Masa tunas gonore
sangat singkat, pada pria umumnya bervariasi antara 2-5 hari, kadang-kadang
lebih lama karena pengobatan diri sendiri tetapi dengan dosis yang tidak cukup
atau gejala sangan samar sehingga tidak diperhatikan. Pada wanita, masa tunas
sulit ditentukan karena pada umumnya asimtomatis.
Tempat masuknya
kuman pada pria di uretra umumnya menimbulkan uretritis. Yang paling sering
adalah uretritis anterior akut dan dapat menjalar sehingga dapat terjadi
komplikasi. Komplikasi bisa berupa komplikasi local, yaitu tisonitis,
parauretritis, litrtritis, dan cowperitis; komplikasi asendens yaitu
prostatistis, vasikulitis, vas deferenitis/finikulitis, efididiminitis,
trigonitis; dan komplikasi deseminata.
Keluahan subyaek
dapat berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra disekitar urepisium
uretra ekternum, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang
kadang disertai darah, perasaan nyeri saat ereksi. Pada pemeriksaan tampak
orifisium uretra ekternum merah, edema, dan ektropion. Tampak duh tubuh
mukopurulen dan dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal
unilateral atau bilateral.
Gambaran klinis
dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda karena perbedaan anatomi dan
fisiologi alat kelamin keduanya. Pada wanita baik akut maupun kronis, jarang
ada keluahan subyektif dan hamper tidak pernah ada kelainan obyektif. Infeksi
pada mulanya hanya mengenai serfiks uretri. Dapat asimtomatik, kadang-kadang
keluahan berupa nyeri pada pinggul bawah. Pada pemeriksaan, serfiks tampak
merah dengan erosi dan secret mukopurulen. Duh tubuhakan terlihat lebih banyak
lagi apabila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan
oleh Tricomonas Vaginalis.
C. KOMPLIKASI
1.
Pada pria
a.
Tysonitis, biasanya terjadi pada pasien dengan
preputium yang sangan panjang dan kebersihan yang kurang baik. Diagnosis dibuat
berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerrah prenuulum
yang nyeri tekan.
b.
Parauretritis, sering pada orang dengan
orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi pada duktus
ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.
c.
Radang kelenjar linfe (litritis). Tidak
memepunyai gejala khusus. Pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir.
Diagnosis komplikasi ini dapat ditegakkan dengan uretroskopi.
d.
Infeksi pada kelenjar cowper (cowperitis), dapat
menyebabkan abses, keluhan berupa adanya nyeri dan adannya benjolan di daerah
perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu difekasi, dan disuria.
e.
Prostatitis akut ditandai dengna perasaan tidak
enak diidaerah pirenium dan suprapubis, malise, demam, nyeri kencing sampai
hematuria, spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani,
sulit buang air besar dan obstipasi.
f.
Gejala prostatitis kronik ringan dan intermiten,
tetapi kadang-kadang menetap. Tersa tidak enak di perineum bagian dalam dan
tersa tidak enak ketika duduk terlalu lama.
g.
Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai
vesikula seminalis dan doktus ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis
akaut atau epididimitis akut.
h.
Pada vasdeferenitis atau funikulitis, gejala
berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama.
i.
Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap
epididimitis biasanya disertai vas deferenitis. Keadaan yang memepermudah
timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan
salah pengelolaan pengobatan atau kelainan pasien sendiri.
j.
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat
mengenai trigonum vesika urinaria. Gejalanya berupa poliuria, disuria terminal,
dan hematuria.


2.
Pada wanita
a.
Parauretritis. Kelenjar para uretra dapat
terkena, tetapi abses jarang terjadi.
b.
Kelenjar bartolin dan labium mayor pada sisi
yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan, terasa nyeri sekali bila pasien
berjalan dan pasien sukar duduk. Abses dapat timbul dan pecah melalui mukosa
atau kulit. Bila tidak diobati dapat rekurens atau menjadi kista.
c.
Salpingitis, dapat bersifat kaut, subakut atau
kronis. Ada beberapa factor predisposisi yaitu masa puerperium, setelah
tindakan dilatasi dan kuretase, dan pemakaian IUD. Infeksi lansung terjadi dari
serviks melalui tuba fallopii ke daerah salping dan ovum sehingga dapat
menebakan penyakit radan gpanggul (PRP). Gejalanya terasa nyeri didaerah
abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur
atau abnormal.


Diagnosa banding yang peril dipikirkan antara lain
kehamilan diluar kandungan, apendisitis akut, abortus septik, abdomentriosis,
ileitis regional, dan driventrikulitis. Penegakakan diagnosis dilakukan dengan
fungsi cavum douglasi, kultur, dan laparaskopi.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Sediaan lansung
Pada sediaan
lansung pada pewarnaan gram akan ditemukan diplokokus gram negative,
intraselular dan ekstraselular, leokositPMN. Bahan duh tubuh pada pria diambil
dari daerah setelah fosa navikularis, sedang kan pada wanita diambil dari
serviks, uretra, muara kelenjar bartolin, dan rectum.
2.
Kultur
Untuk indentifkasi
perlu diadakan pembiakan (kultur). Terdapat duma macam media yang digunakan
yaitu media transport dan media pertumbuhan.
3.
Tes definitive
a.
Tes oksidasi. Semua neisseria memeberi reaksi
fositif
b.
Tes fermentasi. Kuman gonokok hanya meragukan
glukossa.
4.
Tes b-laktamase
Hasil tes fositif di tunjukan dengan perubahan
warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim b-laktamase.
5.
Tes Thomson
Dengan menampung urin
pagi dalam 2 gelas, tes ini digunakan untuk mengetahui sampai mana infeksi ini
sudah berlansung.
Pada sarana kesehatan di luar rumahsakit (puskesmas.
Klinik/praktek pribadi), pemeriksaan gram sudah cukup memadai.
E. PENATALAKSANAAN
1.
Medikamentosa
a.
Pilihan utama dan kedua adalah siprofloksasin
500 mg dan ofoksasin 400 mg. berbagai remijen yang dapat diberikan adalah
1)
Siprofloksasin*500 mg per oral, atau
2)
Ofloksasin*400 mg per oral, atau
3)
Seftriakson*250 mg injeksi intra muscular,
Dikombinasikan dengan
1)
Doksisiklin 2 x 100mg, selama 7 hari, atau
2)
Tetrasiklin 4x 500mg, selama 7 hari, atau
3)
Eritromisin 4x 500mg, selama 7 hari
b.
Untuk daerah dengan insidens galur neisseria
gonorrhoeae penghasil penisilinase (NGPP) rendah, pulihan utama adalah
penisilin G prokain akua 4,8 juta unit + 1 gram probenesid. Obat lain yang
dapat dipakai antara lain :
1)
Ampisilin 3,5 gram + 1 gram probenesid atau
2)
Amoksilin 3 gram + 1 gram probenesid
c.
Pada kasus gonore dengan komplikasi dapat
diberikan salah satu obat dibawah ini .
1)
Siprofrolksasin*500 mg/hari per oral, selama 5
hari
2)
Ofloksasin*400 mg/hari, injeksi intra muscular
selam 3 hari
3)
Kanamisin 2 g injeksi intra muscular, selam 3
hari
4)
Spektinomisin 2 g/hari, injeksi intra muscular
selam 3 hari
*dikontra indikasi untuk wanita
hamil, menyusui, dan anak-anak berusia kurang dari 12 tahun.
2.
Nonmedikamentosa
a.
Memeberikan pendidikan kesehatan pada pasien dengan
menjelaskan tentang :
1)
Bahaya oenyakit menular seksual (PMS) dan
komplikasinya
2)
Pentingnya mematuhi pengobatan yang dieberikan
3)
Cara penularan PMS dan [engobatan untuk pasangan
seks tetapnya
4)
Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan
memakai kondom jika tak ddapat dihindarkan
5)
Cara-cara menghindari infeksi PMS dimasa datang
b.
Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Gonore adalah penyakit
menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang
menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan
tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva).
Gonore bisa menyebar
melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada
wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam
panggul sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
Gonore disebabkan karena kuman
Neisseria gonorrhea, melalui perantara manusia, tempat kuman keluar penis,
vagina, anus, mulut. Cara penularan melalui kontak seksua langsung, tempat
kuman masuknya kuman melalui penis, vagina, anus, mulut. Dan yang bisa terkena
gonore adalah orang yang berhubungan seks tak aman, pada bayi yang lahir
pervaginam dimana ibunya mengidap gonore.
B.
SARAN
Saran bagi
dosen pengajar diaharapkan makalah ini
berguna sebagai alat pembanding dalam memberikan pembelajaran di dalam kelas
khususnya bagi mahasiswa semester IV dengan mata kuliah epidemiologi.
Bagi mahasiswa
di harapkan agar makalah ini lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam
pemebelajaran epidemiologi tentang penyakit menular seksual serta mampu
menerapkan teori secara aplikatif sebisa mungkin yang telah di harapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Mansjoer Arif, Suprohaita, Wahyu
Ika W, Wiwik S. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Medica Aesculapius;
2000. Hal 141-146
Glasier Ana, Ailsa Gebbie.
Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : ECG, 2005
RSU Dr.Slamet–FK yasri. Infeksi Neisseria Donorrhoeae.
24 Februari 2009 (diaskes tanggal 29 April 2012). Didapat dari :
idmgarut.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar