Minggu, 14 Oktober 2012

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR SEKSUAL GONORE



TUGAS MAKALAH EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL GONORE

 

Dosen Pengampu : Risna Wati, S.SiT






Disusun oleh:
1.      Ending Sulastri          (0410014)
2.      Sri Hartati                 (0410056)





AKADEMI KEBIDANAN AR-RUM SALATIGA
Jl. Pondok Joko Tingkir Lor No.5 Salatiga
2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat allah SWT karna dengan rahmat dan karunianyalah kami dapat menyusun makalah yang berjudul tentang “Penyakit Menular Seksual Gonore” ini dapat diselesaikan secara baik dan tepat pada waktunya.
Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dalam penyusunan makalah ini, semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang “Epidemiologi Tentang Penyakit Menular Seksual Gonore”.
Makalah ini tidak lepas dari kekurangan sehingga memerlukan saran dan kritik untuk kesempurnaan.

Salatiga, 29 April 2012

Penyusun,















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I.     PENDAHULUAN
          A.  Latar Belakang........................................................................................ 1
          B.  Tujuan...................................................................................................... 2
                 1. Tujuan Umum...................................................................................... 2
                 2. Tujuan Khusus..................................................................................... 2
BAB II .................................................................................................................... ISI
A.    Defenisi.......................................................................................................... 3
B.     Manifestasi klinik........................................................................................... 3
C.     Komplikasi..................................................................................................... 4
D.    Pemeriksaan Penunjang.................................................................................. 6
E.      Penatalaksanaa.............................................................................................. 7

BAB III   PENUTUP
          A.   Kesimpulan.............................................................................................. 9
          B.   Saran ....................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
PENDAHAULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Menurut WHO, uretritis gonokokus dan non gonokokus merupakan masalah kesehatan lingkungan yang sangat penting. Penyakit ini ditransmisikan terutama malalui hubungan seksual dengan partner yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat menular melalui cairan tubuh yang terinfeksi sehingga ibu dapat menularkan infeksi ini ke bayinya selama persalinan. Penyakit ini dapat mengenai pria dan wanita, serta lebih mudah menyebar pada individu yang memiliki banyak partner seksual (Talhari, et al., 1997).
Neisseria gonorhoeae merupakan penyebab gonore, salah satu penyakit menular seksual yang terbanyak. Sekitar 62 juta kasus gonore terdiagnosa pada 1995. Waktu inkubasinya sekitar 2-5 hari. Penyakit ini menimbulkan gejala disuria, gatal pada uretra, dan secret uretra purulen. Namun pada sebagian besar kasus, terutama pada wanita, penyakit ini asimtomatik (Talhari, et al., 1997).
Non-gonococcal urethritis (NGU) adalah satu di antara penyakit menular seksual yang umum ditemukan. Diperkirakan sekitar 89 pasien dengan infeksi Clamydia, dan 170 juta dengan infeksi Trichomonas pada 1995. NGU dapat disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan jamur (Talhari, et al., 1997).
Uretritis gonokokus dan non gonokokus memiliki gejala klinis yang hampir sama, sedangkan penanganan yang diperlukannya cukup berbeda. Oleh karena itu, diagnosisnya perlu dibedakan baik melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dengan penegakan diagnosis yang tepat, terapi dapat dilakukan secara efektif dan efisien, sehingga mengurangi timbulnya komplikasi penyakit dan tingkat penyebarannya di masyarakat.
B.     TUJUAN
1.      Tujuan umum
Agar mahasiswa mengetahui tentang penyakit  menular seksual gonore.
2.      Tujuan khusus
a.       Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang penyakit menular seksual gonore.
b.      Agar mahasiswa mamapu menjelasakan tentang penyakit menular seksual gonore.













BAB II
ISI
A.    DEFENISI
Gonore adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh nisseria gonorrehoeae (N. gonnorhoeae). (kapita Selekta Kedokteran jilid 2, 2000)
Gonore adalah infeksi menular seksual di saluran genitourinaria bawah yang disebabkan oleh neisseria gonnorrhoae.(buku ajar patologi edisi 7, 2007)
Gonore adalah infeksi menular seksual pada epitel dan umunya bermanifestasi sebagai cervicitis, uretritis, proctitis, dan conjungtivitis. Bila tidak diterapi, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi lokal seperti endometritis, salpingitis, TOA, bartolinitis, peritonitis, dan perihepatitis pada pasien wanita, periuretritis dan epididimitis pada pasien pria, dan oftalmia neonatorum pada neonatus. Gonokokemia diseminata merupakan kejadian jarang yang bermanifestasi sebagai lesi kulit, tenosinovitis, arthritis, dan pada kasus jarang endokarditis atau meningitis.

B.     MANIFESTASI KLINIK
Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya bervariasi antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama karena pengobatan diri sendiri tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangan samar sehingga tidak diperhatikan. Pada wanita, masa tunas sulit ditentukan karena pada umumnya asimtomatis.
Tempat masuknya kuman pada pria di uretra umumnya menimbulkan uretritis. Yang paling sering adalah uretritis anterior akut dan dapat menjalar sehingga dapat terjadi komplikasi. Komplikasi bisa berupa komplikasi local, yaitu tisonitis, parauretritis, litrtritis, dan cowperitis; komplikasi asendens yaitu prostatistis, vasikulitis, vas deferenitis/finikulitis, efididiminitis, trigonitis; dan komplikasi deseminata.
Keluahan subyaek dapat berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra disekitar urepisium uretra ekternum, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang disertai darah, perasaan nyeri saat ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra ekternum merah, edema, dan ektropion. Tampak duh tubuh mukopurulen dan dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda karena perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin keduanya. Pada wanita baik akut maupun kronis, jarang ada keluahan subyektif dan hamper tidak pernah ada kelainan obyektif. Infeksi pada mulanya hanya mengenai serfiks uretri. Dapat asimtomatik, kadang-kadang keluahan berupa nyeri pada pinggul bawah. Pada pemeriksaan, serfiks tampak merah dengan erosi dan secret mukopurulen. Duh tubuhakan terlihat lebih banyak lagi apabila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan oleh Tricomonas Vaginalis.

C.    KOMPLIKASI
1.      Pada pria
a.       Tysonitis, biasanya terjadi pada pasien dengan preputium yang sangan panjang dan kebersihan yang kurang baik. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerrah prenuulum yang nyeri tekan.
b.      Parauretritis, sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.
c.       Radang kelenjar linfe (litritis). Tidak memepunyai gejala khusus. Pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir. Diagnosis komplikasi ini dapat ditegakkan dengan uretroskopi.
d.      Infeksi pada kelenjar cowper (cowperitis), dapat menyebabkan abses, keluhan berupa adanya nyeri dan adannya benjolan di daerah perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu difekasi, dan disuria.
e.       Prostatitis akut ditandai dengna perasaan tidak enak diidaerah pirenium dan suprapubis, malise, demam, nyeri kencing sampai hematuria, spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air besar dan obstipasi.
f.       Gejala prostatitis kronik ringan dan intermiten, tetapi kadang-kadang menetap. Tersa tidak enak di perineum bagian dalam dan tersa tidak enak ketika duduk terlalu lama.
g.      Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan doktus ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akaut atau epididimitis akut.
h.      Pada vasdeferenitis atau funikulitis, gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama.
i.        Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis biasanya disertai vas deferenitis. Keadaan yang memepermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan salah pengelolaan pengobatan atau kelainan pasien sendiri.
j.        Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria. Gejalanya berupa poliuria, disuria terminal, dan hematuria.
gonorrheamale.jpg gonorrhea image by kasiomarshalhttp://secondking.files.wordpress.com/2009/07/klinis-go.jpg?w=260&h=145
2.      Pada wanita
a.       Parauretritis. Kelenjar para uretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.
b.      Kelenjar bartolin dan labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan, terasa nyeri sekali bila pasien berjalan dan pasien sukar duduk. Abses dapat timbul dan pecah melalui mukosa atau kulit. Bila tidak diobati dapat rekurens atau menjadi kista.
c.       Salpingitis, dapat bersifat kaut, subakut atau kronis. Ada beberapa factor predisposisi yaitu masa puerperium, setelah tindakan dilatasi dan kuretase, dan pemakaian IUD. Infeksi lansung terjadi dari serviks melalui tuba fallopii ke daerah salping dan ovum sehingga dapat menebakan penyakit radan gpanggul (PRP). Gejalanya terasa nyeri didaerah abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.
http://eug3n14.files.wordpress.com/2009/06/go-3.jpg?w=5003_57.jpg
Diagnosa banding yang peril dipikirkan antara lain kehamilan diluar kandungan, apendisitis akut, abortus septik, abdomentriosis, ileitis regional, dan driventrikulitis. Penegakakan diagnosis dilakukan dengan fungsi cavum douglasi, kultur, dan laparaskopi.
D.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Sediaan lansung
Pada sediaan lansung pada pewarnaan gram akan ditemukan diplokokus gram negative, intraselular dan ekstraselular, leokositPMN. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari daerah setelah fosa navikularis, sedang kan pada wanita diambil dari serviks, uretra, muara kelenjar bartolin, dan rectum.

2.      Kultur
Untuk indentifkasi perlu diadakan pembiakan (kultur). Terdapat duma macam media yang digunakan yaitu media transport dan media pertumbuhan.
3.      Tes definitive
a.       Tes oksidasi. Semua neisseria memeberi reaksi fositif
b.      Tes fermentasi. Kuman gonokok hanya meragukan glukossa.
4.      Tes b-laktamase
Hasil tes fositif di tunjukan dengan perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim b-laktamase.
5.      Tes Thomson
Dengan menampung urin pagi dalam 2 gelas, tes ini digunakan untuk mengetahui sampai mana infeksi ini sudah berlansung.
Pada sarana kesehatan di luar rumahsakit (puskesmas. Klinik/praktek pribadi), pemeriksaan gram sudah cukup memadai.
E.     PENATALAKSANAAN
1.      Medikamentosa
a.       Pilihan utama dan kedua adalah siprofloksasin 500 mg dan ofoksasin 400 mg. berbagai remijen yang dapat diberikan adalah
1)      Siprofloksasin*500 mg per oral, atau
2)      Ofloksasin*400 mg per oral, atau
3)      Seftriakson*250 mg injeksi intra muscular,
Dikombinasikan dengan
1)      Doksisiklin 2 x 100mg, selama 7 hari, atau
2)      Tetrasiklin 4x 500mg, selama 7 hari, atau
3)      Eritromisin 4x 500mg, selama 7 hari
b.      Untuk daerah dengan insidens galur neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase (NGPP) rendah, pulihan utama adalah penisilin G prokain akua 4,8 juta unit + 1 gram probenesid. Obat lain yang dapat dipakai antara lain :
1)      Ampisilin 3,5 gram + 1 gram probenesid atau
2)      Amoksilin 3 gram + 1 gram probenesid
c.       Pada kasus gonore dengan komplikasi dapat diberikan salah satu obat dibawah ini .
1)      Siprofrolksasin*500 mg/hari per oral, selama 5 hari
2)      Ofloksasin*400 mg/hari, injeksi intra muscular selam 3 hari
3)      Kanamisin 2 g injeksi intra muscular, selam 3 hari
4)      Spektinomisin 2 g/hari, injeksi intra muscular selam 3 hari
*dikontra indikasi untuk wanita hamil, menyusui, dan anak-anak berusia kurang dari 12 tahun.
                       2.         Nonmedikamentosa
a.       Memeberikan pendidikan kesehatan pada pasien dengan menjelaskan tentang :
1)      Bahaya oenyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya
2)      Pentingnya mematuhi pengobatan yang dieberikan
3)      Cara penularan PMS dan [engobatan untuk pasangan seks tetapnya
4)      Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak ddapat dihindarkan
5)      Cara-cara menghindari infeksi PMS dimasa datang
b.      Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva).
Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
Gonore disebabkan karena kuman Neisseria gonorrhea, melalui perantara manusia, tempat kuman keluar penis, vagina, anus, mulut. Cara penularan melalui kontak seksua langsung, tempat kuman masuknya kuman melalui penis, vagina, anus, mulut. Dan yang bisa terkena gonore adalah orang yang berhubungan seks tak aman, pada bayi yang lahir pervaginam dimana ibunya mengidap gonore.

B.     SARAN
Saran bagi dosen pengajar diaharapkan  makalah ini berguna sebagai alat pembanding dalam memberikan pembelajaran di dalam kelas khususnya bagi mahasiswa semester IV dengan mata kuliah epidemiologi.
Bagi mahasiswa di harapkan agar makalah ini lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam pemebelajaran epidemiologi tentang penyakit menular seksual serta mampu menerapkan teori secara aplikatif sebisa mungkin yang telah di harapkan.


DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arif, Suprohaita, Wahyu Ika W, Wiwik S. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Medica Aesculapius; 2000. Hal 141-146
Glasier Ana, Ailsa Gebbie. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : ECG, 2005
RSU Dr.Slamet–FK yasri. Infeksi Neisseria Donorrhoeae. 24 Februari 2009 (diaskes tanggal 29 April 2012). Didapat dari : idmgarut.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar